Mana Lebih Baik: Herbal atau Kimia?

Mana Lebih Baik: Herbal atau Kimia?

Ingat nggak, dulu waktu kecil, kita sering ‘dipaksa’ ibu untuk minum kencur supaya doyan makan? Dahi yang dioles bawang merah saat demam atau minum jahe dan madu supaya batuk reda?

Sekarang, mungkin ada yang masih mempraktikkan hal tersebut. Tapi rasanya, banyak dari kita yang lebih percaya obat-obatan moderen alias kimia. Jadi bikin bertanya-tanya nggak, sih, sebenarnya apa perbedaan dari ramuan tradisional alias herbal ini dengan obat-obatan kimia? Kemudian, mana yang lebih baik antara keduanya?

Tanaman herbal

Mari kita bahas biar kamu nggak berantem sama orang tuamu gara-gara pembahasan obat kimia versus herbal!

Sebelumnya, kita bahas mengenai penggunaan kata dulu, ya. Obat kimia identik dengan obat yang diracik melalui proses kimiawi, sedangkan obat herbal umumnya dimaknai dengan obat yang berasal dari alam.

Sebenarnya, baik obat herbal maupun sebagian besar obat kimia sama-sama menggunakan bahan dasar tanaman. Dan obat herbal pun memiliki senyawa kimia yang terkandung di dalamnya. Bahkan, air yang menjadi kebutuhan dasar manusia merupakan senyawa kimia yang terdiri dari hidrogen dan oksigen. Maka, penggunaan kata obat kimia rasanya kurang tepat, ya?
Nah, yang menjadi perbedaan mendasar antara keduanya adalah obat herbal biasanya berasal dari tanaman utuh tanpa penyaringan khusus, sementara obat kimia membutuhkan proses khusus untuk mendapatkan bahan aktif.

Selain itu, perbedaan antara keduanya ada pada kontrol. Obat-obatan kimia diatur secara ketat oleh administrasi makanan dan obat-obatan. Kontrol kualitas dipastikan dan harus menjalani inspeksi sebelum dijual kepada publik, serta bahan-bahan dalam obat semuanya terdaftar.

Obat kimia juga telah melalui tes ilmiah dan terbukti efektif, bahkan bekerja lebih cepat dan kadang-kadang secara instan.
Obat herbal memang sudah ada sejak zaman dahulu kala, tapi penelitian ilmiah yang mempelajari keamanan dari obat-obatan tersebut masih terbatas. Pengaturan peredaran suplemen herbal juga belum seketat pengobatan medis, sehingga tingkat keamanan dari obat herbal masih belum dapat dipastikan.

Tapi, bukan berarti obat herbal nggak bagus, ya. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengetahui apakah obat herbal yang kita pilih bisa dijamin keamanannya:

  • Cek kemasan; tidak bocor, tidak menggelembung, gambar di kemasan tidak vulgar
  • Cek label; nama produk yang jelas, ada nama dan alamat produsen atau importir, nomor izin edar, komposisi serta berat bersih, kode produksi, tanggal kedaluwarsa, aturan pakai, cara penggunaan dan kegunaan, serta peringatan.
  • Cek izin edar; sebelum melakukan pembelian, cek dulu apakah produk tersebut terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, melalui situs mereka https://cekbpom.pom.go.id/
Terdaftar di BPOM

Menurut seorang pakar herbal, jika dibandingkan dengan obat kimia, obat herbal memang cenderung lebih aman. Pasalnya zat aktif pada obat herbal tidak sebesar pada obat kimia. Namun keamanannya, tetap tergantung pada apa jenis obatnya dan siapa yang meminumnya.
Penggunaan obat herbal tergantung dari respons tubuh tiap orang, kondisi medis yang mendasari, adakah interaksi obat, apakah obat herbal tersebut sudah terstandarisasi dengan baik, dan sebagainya.

Berarti lebih baik obat kimia? Hmm, tidak semudah itu mengambil kesimpulan, sih. Obat kimia nggak 100 persen aman juga. Beberapa obat kimia dapat merusak organ jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Bahkan ada juga beberapa obat sintetis yang dapat menyebabkan kecanduan.
Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Baik obat herbal maupun obat kimia, sama-sama memerlukan dosis yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Karena semua yang berlebihan itu tidak baik, kecuali uang 🙂